Dimulai pada suatu masa yang bisa dikenal sebagai masa remaja, dimana mereka mempertaruhkan segalanya untuk suatu hal yang mereka inginkan. Banyak cerita tentang sebuah percintaan, pertemanan, persahabatan dan permusuhan. Semua itu kita jumpai pada masa ini, bukan sebuah pemikiran bodoh apabila remaja menginginkan sebuah popularitas tinggi pada usia mereka. Banyak dikenal dan dikagumi lawan jenisnya.
Di awal cerita saya akan menceritakan awal mula sebuah kisah ini,
Kisah seorang Remaja yang menemukan cintanya. Sebut saja Ken, siswa SMA yang bisa digambarkan sebagai pria yang mudah bergaul dan memiliki banyak ide kreatif. Dia menduduki bangku kelas 2 pada saat itu. Dia sekarang seorang Senior yang memiliki adik kelas, dikarenakan penerimaan siswa/i baru di Awal Juni ini. Ken adalah orang yang aktif dan lumayan kuat berorganisasi disekolahnya. Banyak teman-teman berkata dia orang yang riang & baik. Dan pastinya tak luput dengan gunjingan/ celaan orang yang mungkin kurang suka atas keberadaannya, tapi itu semua tidak pernah dia gubris dan bahkan dia terlalu cuek untuk hal seperti itu.
Awal penerimaan siswa/i baru/ Masa Orientasi Siswa
Sebagai kakak kelas yang memiliki arogansi tinggi dan mungkin memiliki passion tersendiri dengan cap 'Senior' pasti memiliki niat untuk bisa mengenal adik kelas barunya, atau mungkin bisa mengenal lebih jauh (
sebut saja memacari/ berpacaran ) dengan adik kelas. Pada suatu kesempatan Ken dan beberapa temannya sudah 'nyirian' mana sih yang dipandang 'Oke' untuk dijadikan PDKT-an. (
Dasar Remaja) dan sekiranya layak utuk diajak ber'Organisasi' menggunakan tanda kutip.
Ken berkata,
"Perempuan itu menarik ya? tidak cantik tapi ber-aura" (
menatap penuh kagum)
Reyhan dengan percaya dirinya menjawab kekaguan Ken terhadap wanita itu
"Liat nanti, dia bakalan mengerjarku dan mengemis cintaku" (
muka blagu)
"Mangga akang, silahkan. Masih banyak ikan dilaut, kalo diibaratkan dia itu ikan asin! haha" (
Balas Ken tertawa puas)
Pada suatu saat, Ken beserta beberapa temannya mempromosikan berbagai macam Ekstrakulikuler yang ada di sekolah kita. Dan tidak sedikit yang memikat mata Ken, body mulus, tinggi, lucu, imut dan bohay. Banyak informasi datang dari teman-teman Ken yang semasa SMP pernah satu sekolah dengan adik-adik kelas yang sekarang. Mulai dari situlah gairah Ken bangkit, dan berusaha mencari seseorang yang mungkin bisa cocok dengan kepribadiannya.
Sebuah kertas lamaran Ekstrakulikuler pun menumpuk di meja belajar Ken, dengan semangat giat Ken membawanya pulang dan mengecheck satu per satu data murid yang mendaftar Ekstrakulikuler yang di pegang oleh Ken. Dan tanpa sengaja nama "Lidya" menjadi nama yang paling berbeda, dia ari di situs jejaring sosial "
Facebook" dan lama kelamaan dia cukup mengenal Lidya di dunia maya.
Seakan tidak habis kepenasarannya Ken meminta nomer/kontak Lidya dan mulai dari situlah dia seakan menemukan sesuatu yang baru dan bangkitlah dia dari kejombloannya. Pada hari sabtu pagi, dimana burung berkicau riang dan udara dingin yang menyelimuti Bandung saat itu, Lidya dan Ken dipertemukan disebuah acara sekolah. Mereka memandang dengan penuh malu, tidak se-akrab mereka di sms/y!m/bbm/facebook melainkan mereka cuma terdiam dan tersipu malu akan sebuah pandangan. Ken yang disana sedang sibuk menata panggung, dipanggil Yuna temannya untuk dipertunjukan sesuatu,
"Ken! kemari, sebuah kejutan datang!!" teriak Yuna kegirangan.
"Tunggu, bentar ini tanggung kalo ditinggal" jawab Ken dengan tegas,
Dan setelah selesai menata panggung, Ken bergegas ke arah Yuna dan tiba-tiba,
"Ken, kamu pasti cape ini aku bawakan Minum" suara lembut Lidya yang seakan malu dan tak kuasa menahan pipi yang mulai memerah.
"Hah? eh eh...iya" (gagu& heran) Ken menjawab dengan terbata-bata.
Dan saat itulah saat yang menjadi berarti selama penantian Ken yang tidak memiliki nyali untuk menyapa Lidya terlebih dahulu. Hari demi hari berlalu, kedekatan Ken & Lidya semakin akrab, mereka berdua seakan habis kata utuk mengatakan bahwa "
Ya Kita Saling Mencinta" dan akhirnya mereka pun melanjutkan untuk hubungan yang lebih lanjut, yaitu berpacaran.
Hubungan yang mereka lalui sungguh menyenangkan, mereka seakan tak terbagi oleh ruang & waktu. Kebersamaan mereka begitu erat, dan mungkin bisa dibilang dimana Ken berada pasti disana ada Lidya, begitupun sebaliknya. Di awal Juni ini, mungkin menjadi bulan yang sangat berarti bagi mereka, tapi semua tak semulus yang dibayangkan. Orang tua Lidya tidak menyetujui hubungan mereka, dikarenakan Lidya harus serius untuk masa awalnya bersekolah. Banyak tentangan dari keluarga yang membuat Lidya sedih, diceritakanlah semua itu kepada Ken. Tak ada daya apapun, Ken memutuskan hubungannya yang baru beberapa minggu dengan Lidya. Seakan mendapatkan ancaman keras dari Orang Tua Lidya, Ken pergi menghilang. Saat jam sekolah mereka tidak pernah bertemu. Hanya pandangan dari jauh yang mungkin bisa mereka lakukan sebagai kesepakatan untuk saling melupakan.
Lidya yang berubah drastis menimbulkan pertanyaan besar untuk keluarga dan teman-temannya, dia sekarang sudah bukan Lidya yang dulu ceria dan sering tertawa, melainkan Lidya yang pendiam dan cenderung emosional.
"Bukankah cinta itu butuh pengorbanan, dan bukankah cinta itu tak memandang siapa dia sebenarnya dan darimana dia berasal, berjuta kata tidak bisa aku luapkan untuk membohongi perasaanku sendiri, aku masih cinta."
Begitulah tulisan terakhir Lidya sebulum dia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Orang Tua Lidya & Ken pun gelisah mencari keberadaan Lidya, tidak ada yang mengetahui dimana Lidya berada, dan Kondisi Lidya yang lemah semkin menambah kekhawatiran Orang-orang terdekat Lidya.
Sebulan berlalu pencarian Lidya pun belum ditemukan, semua sudah melapor kepihak yang berwajib, tapi tidak satupun mengetahui dimana keberadaannya. Ken yang pada saat itu pulang dari sebuah Bar di pusat kota melihat seorang gadis yang sepertinya dia kenal sosok itu, ya! Lidya! Bukan Lidya yang kulihat! Wanita gila yang sedang memungut bekas makanan di tempat pembuangan sampah, Ken terkejut dan berlari menghampiri lalu memeluk tubuh lemah tak berdaya tersebut.
"Aku khawatir, semua orang khawatir, mengapa kamu lakukan ini?' Tanya Ken dengan derai air mata.
"Aku? kenapa? jika kamu tau, kekhawatiranku saat itu melebihi kekhawatiran kalian" Jawab Lidya dengan pandangan kosong.
"Kekhawatiran apa Lid?" jawab Ken dengan penuh heran.
"Kekhawatiranku untuk mengecewakan orang tua dan kekhawatiran terbesarku yang tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk berhenti mencintaimu, karena aku ga sanggup Ken" Lidya berderai air mata.
Suasana hening dan menjadi sangat dramatis. Dan tiba-tiba Lidya terjatuh pingsan, Ken bergegas membawa Lidya ke RumahSakit. Dan tidak bertahan lama, Lidya pun tidak bisa diselamatkan. Pembuluh darah Lidya pecah karena kedinginan dan berhari-hari dalam keadaan basah kuyup. Ken terpukul dan Orang Tua widya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kita semua kehilangan Lidya. Tidak banyak kenangan yang dihabiskan Ken bersama Lidya disaat terakhirnya. Penyesalan selalu membayang bayangi Ken sampai saat ini.
"Kamu tau apa yang paling indah di muka bumi ini? Kamu! Seakan gapernah luput dari hariku dan Kamu tau gak apa yang jadi semangat aku buat sekolah? Kamu! Haha memang gombal sih tapi gatau kenapa aku pengen banget mencurahkan semuanya di kertas ini, oh iya Ken kalo suatu hari nanti kamu baca tulisan ini, jangan kegeeran ya Ken soalnya aku nulis ini pake Tinta Cinta! ga sembarangan Tinta loh! Semoga pas kamu baca tulisan ini kamu bisa bales ya surat ini, sedikit juga gapapa kok. Awas kalo sampe ga dibales! haha I Love You Ken"
"I love you Too Lidya" ujar Ken sambil meneteskan air mata diatas surat yang ia temukan di laci belajar Lidya 1 bulan sebelum kepergiannya. Cinta itu tak terbayar oleh apapun, bahkan hingga nyawa hilangpun jika cinta itu sejati dia tidak akan pernah pudar. Dan percalah Cinta itu ada.
by Zulfikar Muhammad Al Rafkhi
June or Love