Pages

Wednesday, 8 June 2011

Hujan di Pucuk Kenangan

Sebuah kenangan terkadang tidak bisa kita lupakan begitu saja, banyak kenangan dn memory yag pantas dan selayaknya kita jadikan pelajaran baik. Bukan berarti kenangan buruk harus kita lupakan begitu saja, cobalah ingat betapa besar pengorbanan kita untuk sebuah tujuan, dan seberapa besar usaha kita untuk sebuah cita-cita.Mungkin cerita ini akan banyak mengilhami kita tentang sebuah pengorbanan dan cita-cita terbesar sesosok remaja, semoga tidak hanya sekedar rentetan cerita dan susunan paragraf/kata yang bisa kita simak, melainkan arti dan makna yang bisa kita terapkan.


Harapan itu datang, dimana sebuah pandangan dan pengetahuanku pada saat itu terbuka lebar, bukan sebuah cita-cita tapi tujuan yang harus aku dapatkan, aku menyebutnya. Sebuah harian masa menuliskan sebuah daftar pekerjaan dan perihal yang menyangkut dengan apa yang sedang aku geluti saat ini, seorang penulis Novel sederhana. Aku menunjukan ini semua kepada seseorang yang mungkin akan senang membaca berita ini, ya..ibuku. Beliau adalah seorang sastrawati, dulu beliau menempuh jenjang pendidikan sarjana sastra Jepang. Beliau selalu menceritakan kepadaku bagaimana usaha dia untuk masuk Jurusan itu, banyak rintangan yang harus beliau lalui, dan mungkin rintangan terbesar adalah izin dari orang tua dan status beliau sebagai pelajar daerah. Beliau memiliki cita-cita sebagai penulis handal, sebelum semua itu sirna semenjak terlalu sibuk mengurusi keluarga. Banyak kumpulan cerita pendek atau curhatan yang beliau tulis di sebuah buku telfon kuno, dimana tersurat syair cinta dan melodi dalam bahasa Jepang maupun Indonesia. Maka dari itulah, beliau sempat memiliki harapan yang seharusnya aku wujudkan, ya! memiliki anak seorang penulis handal. Beliau seakan melihat bayangan masa lalunya dimata saya, sebuah bola mata bercerminkan harapan dan tujuan akan sebuah kesuksesan. Aku bisa dan kubuktikan pada beliau dan dunia.


Waktu demi waktu kuhabiskan diatas meja kecil yang menghadap taman di balkon rumahku, hanya selembar kertas yang aku goreskan diatasnya sebuah kenangan manis saat aku bersama ibuku, mungkin disitulah ide cemerlang bermunculan. Sudah sekian jam aku menulis, hembusan angin dan segarnya udara sekitar rumahku membuat mataku seakan harus dipejamkan, dan akhirnya aku berfikir untuk memjamkan mataku beberapa menit. Tidak terasa 3 jam berlalu, dan saat kubuka mata, karangan tulisku menghilang. Aku mencarinya dan mukaku sudah terlihat panik, mengapa tidak, itu karangan yang setidaknya sudah aku buat sesempurna mungkin untuk dikirimkan ke sebuah majalah. Dan tak sengaja pandanganku teralihkan pada sesosok wanita yang menatapku penuh tanya,
     "Inikah karya yang kau buat?" mata yang seakan tak berhenti menatapku
     "Iya" hanya sepatah kata yang bisa kuucapkan.
     "Semulia inikah aku nak? sesempurna inikah aku dihadapanmu?" tak lama mata ibuku berkaca-kaca dan beranjak memeluku erat.


     "Kau seorang descripter hebat, kau teralu berlebihan memandangku seperti ini, aku bukan sosok seperti yang kukira, kau berkata aku lembut nak, bukankah suara lantangku ini tidak membuatmu bising? apakah omelanku ini tidak membuatmu jengkel? Kau berkata aku rupawan, tidakah garis wajah yang mulai dimakan waktu ini tidak membuatmu sungkan? Nak....kau terlalu berlebihan" tatapan ibuku selalu meyakinkanku.
     "Ibu, kau yang tak sadar atas apa yang kau lakukan kepadaku. Kau yang merubahku, kau yang membentuk aku, dan kau lah yang menginspirasiku sebagai descripter yang kau sebut berlebihan. Karena memang kau ibu yang terukir di pikiranku, kau tak menyadari itu karena kau begitu tulus atas apa yang kau berikan" aku katakan secara perlahan di atas pundaknya yang sudah mulai rapuh.


Dan mulai dari situlah dukungan Ibuku yang sangat menggebu akan tujuanku menjadi penulis handal terlaksana, neliau mendaftarkan aku untuk mengikuti test sebuah perusahaan majalah ternama di Jakarta, dia menceritakanku akan kesuksesan perusahaan tersebut, dan dititipkanlah aku kepada staff perusahaan tersebut. Aku yang pada awalnya semangat mengikuti test tersebut sedikit mengurungkan niatku, melihat kondisi ibuku yang akhir-akhir ini kurang baik. Beliau meyakinkan aku untuk tetap mengikuti test dengan alasan kondisi tersebut hanya karena kelelahan. Dengan sedikit berat hati aku bulatkan tekadku.


Memulai kesuksesan dengan merantau keluarkota, sepanjang perjalanan aku selalu teringat akan ibuku, baru beberapa jam aku tinggalkan Bandung dan Ibuku sungguh berat hati ini untuk mengatakan rindu. Diperjalanan aku bertemu dengan Gufron, mahasiswa Universitas Trisakti yang baru saja mengakhiri liburannya di Bandung. Tak sebatas kenal, kami saling menceritakan pengalaman dan berbagi inspirasi. Tak disangka dia adalah seorang reporter Surat Kabar Jakarta. Seakan menemukan air di gurun pasir, aku terus mencari info dan menannyakan sepak terjang itu semua. Obrolan kita makin hangat dan mengasikan, sampai tak terasa Jakarta sudah didepan mata. Aku turun di Blok M dan dilanjutkan dengan naik metro mini jurusan Kampung Rambutan. Aku ditemani Gufron, dan tidak disangka dia mengijinkan aku untuk tinggal sementara dirumahnya selagi aku mencari kost terdekat dari perusahaan itu.


Hari pertama aku membuka mata di Jakarta, kota yang padat dan sangat ramai. Gufron mengajaku untuk melihat tugu Monas, keliling Jakarta untuk melihat gedung gedung pencakar langit yang tak sering aku jumpai di Bandung. Seketika aku melihat seorang ibu sedang menyuapi anak-nya dipinggir jalan, entah mengapa fenomena tersebut hentak mengingatkan aku kepada Ibuku. Dan bergegas aku mencari wartel setempat untuk menannyakan kondisi ibuku. Cukup mengurangi rasa rinduku kepada beliau, tetapi entah mengapa suara ibuku sedikit mengecil dan nampak lemas, untuk meyakinkan itu aku menelfon Pak Sumadi tetangga sebelah untuk menannyakan kondisi ibuku yang sebenarnya.Dan memang benar kondisi ibu semenjak aku pergi ke Jakarta agak sedikit memburuk, karena kecapaian setelah menerima pesanan kue. Aku menitipkan kesehatan ibu kepada Pak Sumadi. Dan akhirnya perasaan khawatirku terhadap kondisi ibu sedikit hilang setelah Pak Sumadi meyakinkan dan berjanji untuk terus memantau kondisi kesehatan Ibu.


Hari ketiga aku membuka mata di Jakarta, badan cukup melelahkan, dan rencana hari ini adalah mengirimkan surat Lamaran dan Karya Tulisku. Gufron mengantarku ke perusahaan tersebut sekalian dia pergi ke Kampus. Aku di drop didepan perusahaan tersebut, dengan motor bebek 70-an nya Gufron bergegas ke Kampus karena dia telah terlambat gara-gara harus mengantarkanku. Hari ini interview berjalan lancar, dan nampaknya Pak Hidayah cukup menyukai karangan yang aku buat. Dia berjanji aku memberi kabar apabila surat lamaranku bisa diterima.


Satu minggu berlalu, dan inilah hari pertamaku ditinggal Gufron, dia pergi ke Banten untuk kerja lapangan. Dia menitipkan pesan kepadaku untuk tetap optimis, raut mukaku mendadak tersenyum dan sedikit sedih. Dan ketika aku hendak membeli sarapan keluar rumah, aku tak sengaja melihat sepucuk surat di depan Pintu depan. Dan itu surat lamaran kerjaku, dimana hasil test dan interview aku direspon oleh Pak Hidayah. Aku membuka surat tersebut dan alhamdulillah, ini semua berkat doa Ibuku. Aku lulus test dan aku resmi menjadi anggota perusahaan tersebut. Tidak lupa aku bergegas untuk menuju wartel dan menelfon Ibuku memberi kabar baik ini. Penuh harapan ibuku bangga akan apa yang aku usahakan. Tapi entah mengapa telfon rumah sulit sekali dihubungi, aku menelfon Pak Sumadi, dan sungguh ironi, dibalik kabar baik ini aku mendapat kabar buruk, dimana ibuku masuk rumah sakit karena darah rendah. Aku kecewa mengapa Pak Sumadi tidak mengabarkan kondisi ibuku, dan ternyata sudah berkali-kali mencoba menghubungi aku melalui Gufron. Aku kecewa sekali kepada sahabatku, mengapa begitu kejamnya dia mencoba untuk memutuskan komunikasiku kepada Ibuku. Pada saat itu aku langsung bergegas untuk pulang ke Bandung, aku sangat khawatir akan kondisi ibuku, beliau masuk UGD dan kondisinya semakin memburuk.Hati ini sudah tidak menentu, dan perasaan bercampur aduk.


Sesampainya di Bandung, aku berlari di lorong rumah sakit, dengan kondisiku yang sudah mulai gundah. Tak kuasa seakan menahan rasa kerinduan dan kesedihan ini, inginku peluk dirinya erat dan kuberikan kabar baik ini. Aku bertemu Pak Sumadi, dia menekuk raut mukanya. Aku heran mengapa mereka menatapku penuh tanya, Bu Sumadi menggenggam tanganku erat, dengan air mata yang sedikit mengalir dari ujung mataku. Mereka memberi kabar bahwa Ibuku telas menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia sudah banyak berjuang untuk hidupnya, tapi kanker paru-paru yang beliau sembunyikan dariku sudah banyak merugikan kondisinya. Aku terjatuh dan merunduk dengan air mata dan hati yang menangis pilu. Tangan Pak Sumadi yang perlahan memeluku erat, dan memberikan sugesti baik untuk kondisi ini. Pintu ruang UGD dibuka, aku memaksa masuk dan sedikit memaksa kepada suster penjaga. Sesosok tubuh yang inginku peluk dan aku tangisi atas kebahagiaan yang telah aku dapat, dukungan dan harapan yang ia inginkan terkabul. Tapi sekarang aku hanya bisa menatap dan memberi kabar baik ini tanpa respon hangan dan kebanggaan yang beliau ucapkan. Surat lamaran kerja yang aku bawa seakan tak berguna, kuat berada di genggamanku dan aku tunjukan padanya. Pemakaman berjalan lancar dan mengharukan, hidup seakan sudah tak berguna. Hampir aku putuskan niatanku untuk bekerja di perusahaan itu, tapi melihat perjuangan dan harapan besar Ibuku kepadaku yang ia harapkan berkerja dan sukses menjadi penulis handal. Seakan semangatku begitu sirna.


Beberapa minggu aku habiskan di Bandung setelah menggelar acara Tujuh Harian Beliau, perasaan begitu sedih dan kehilangan, dan hari ini aku memutuskan untu ke Jakarta dan melanjutkan impianku. Meskipun ibuku sudah tak ada disisiku untuk memberi semangat dan doa, tapi aku tetap ingat pesan terakhir ibuku. Sesampainya di Jakarta aku tak sengaja bertemu dengan Gufron, aku seakan kecewa atas apa yang terjadi, dia memutuskan kontakku dengan ibuku,
     "Kenapa kau lakukan ini fron?" suara keras ku yang seakan meluapkan kekecawaan atas kepergian ibuku.
     "Aku lakukan ini untuk kebaikanmu!" bentak Gufron kepadaku "Kebaikan apa maksudmu, memutuskan hubunganku dengan Keluargaku?" jawabku dengan emosi.
     "Aku hanya ingin menjaga amanah dan melaksanakan apa yang ibumu pesankan kepadaku, 4 hari yang lalu beliau menelfonku saat aku berada di banten, dia memintaku untuk berhenti memberi kabar beliau sampai pengumuman test perusahaan tersebut, beliau hanya ingin kau serius atas apa yang kau niatkan, maafkan aku, aku tidak menyangka begini keadaanya" jawab Gufron dengan raut yang penuh dengan penyesalan.
     Aku terdiam dan merenungi atas apa yang ibu amanahkan kepada Gufron, bukan kecewa yang aku dapatkan setelah mendengar cerita rinci dari Gufron. Bangga dan alangkah mulia dirinya hanya untuk kebaikanku. Hendak aku elak perasaan ini, kutatap mata Gufron dan erkata,
     "Ini bukan saatnya untuk menyesali ini semua, ibuku telah pergi. Sosok itu hilang, seakan hembusan nafasku sudah tak sejernih dulu. Mungkin ini memang jalanku, aku ingin memulai hariku dengan semangat baru. Dan selalu melakukan yang tebaik untuk ibuku, maafkan aku fron" jawabku. Dan disitulah aku banyak berbincang dengan Gufron, aku berjanji kepada diriku dan ibuku yang jauh disana. Walaupun kini hidupku sudah tak sesempurna dulu, tetapi di hatiku, dimataku, dijiwaku masih ada yang terus membayangi kesuksesanku kelak. Ibuku.

Monday, 6 June 2011

Funeral Scene

A photo session that may have extreme ideas, so I chose the theme of Funeral. Banya people's views about a funeral, wisdom, serious and sad. But this time I was mixing the mortar it into a masterpiece with no limits. Cemetery with hearts happy, because actually there occurred a death of people we hate.

Perhaps the funeral could mean another. Where a procession of events used as a ribbing material, and a sadness transformed into a bliss. That is where my unique a masterpiece. Six of my friends participated in this shoot, five were played as Black Swan and a role as the Holy Goose.

Photography

We are doing a photoshoot of 3 pm, and planned to be completed before sunset. But the more dramatic sunset and there feelings emerge. We do not want to waste time in vain, we do a lot of action at night in the grave, we know this a little mystical, but this is the outcome that you can. Perfection.

Photography

June or Love

     Dimulai pada suatu masa yang bisa dikenal sebagai masa remaja, dimana mereka mempertaruhkan segalanya untuk suatu hal yang mereka inginkan. Banyak cerita tentang sebuah percintaan, pertemanan, persahabatan dan permusuhan. Semua itu kita jumpai pada masa ini, bukan sebuah pemikiran bodoh apabila remaja menginginkan sebuah popularitas tinggi pada usia mereka. Banyak dikenal dan dikagumi lawan jenisnya.

     Di awal cerita saya akan menceritakan awal mula sebuah kisah ini,
Kisah seorang Remaja yang menemukan cintanya. Sebut saja Ken, siswa SMA yang bisa digambarkan sebagai pria yang mudah bergaul dan memiliki banyak ide kreatif. Dia menduduki bangku kelas 2 pada saat itu. Dia sekarang seorang Senior yang memiliki adik kelas, dikarenakan penerimaan siswa/i baru di Awal Juni ini. Ken adalah orang yang aktif dan lumayan kuat berorganisasi disekolahnya. Banyak teman-teman berkata dia orang yang riang & baik. Dan pastinya tak luput dengan gunjingan/ celaan orang yang mungkin kurang suka atas keberadaannya, tapi itu semua tidak pernah dia gubris dan bahkan dia terlalu cuek untuk hal seperti itu.

Awal penerimaan siswa/i baru/ Masa Orientasi Siswa


     Sebagai kakak kelas yang memiliki arogansi tinggi dan mungkin memiliki passion tersendiri dengan cap 'Senior' pasti memiliki niat untuk bisa mengenal adik kelas barunya, atau mungkin bisa mengenal lebih jauh ( sebut saja memacari/ berpacaran ) dengan adik kelas. Pada suatu kesempatan Ken dan beberapa temannya sudah 'nyirian' mana sih yang dipandang 'Oke' untuk dijadikan PDKT-an. ( Dasar Remaja) dan sekiranya layak utuk diajak ber'Organisasi' menggunakan tanda kutip.
     Ken berkata,
"Perempuan itu menarik ya? tidak cantik tapi ber-aura" (menatap penuh kagum)
     Reyhan dengan percaya dirinya menjawab kekaguan Ken terhadap wanita itu
"Liat nanti, dia bakalan mengerjarku dan mengemis cintaku" (muka blagu)
     "Mangga akang, silahkan. Masih banyak ikan dilaut, kalo diibaratkan dia itu ikan asin! haha" (Balas Ken tertawa puas)

     Pada suatu saat, Ken beserta beberapa temannya mempromosikan berbagai macam Ekstrakulikuler yang ada di sekolah kita. Dan tidak sedikit yang memikat mata Ken, body mulus, tinggi, lucu, imut dan bohay. Banyak informasi datang dari teman-teman Ken yang semasa SMP pernah satu sekolah dengan adik-adik kelas yang sekarang. Mulai dari situlah gairah Ken bangkit, dan berusaha mencari seseorang yang mungkin bisa cocok dengan kepribadiannya.

     Sebuah kertas lamaran Ekstrakulikuler pun menumpuk di meja belajar Ken, dengan semangat giat Ken membawanya pulang dan mengecheck satu per satu data murid yang mendaftar Ekstrakulikuler yang di pegang oleh Ken. Dan tanpa sengaja nama "Lidya" menjadi nama yang paling berbeda, dia ari di situs jejaring sosial "Facebook" dan lama kelamaan dia cukup mengenal Lidya di dunia maya.

     Seakan tidak habis kepenasarannya Ken meminta nomer/kontak Lidya dan mulai dari situlah dia seakan menemukan sesuatu yang baru dan bangkitlah dia dari kejombloannya. Pada hari sabtu pagi, dimana burung berkicau riang dan udara dingin yang menyelimuti Bandung saat itu, Lidya dan Ken dipertemukan disebuah acara sekolah. Mereka memandang dengan penuh malu, tidak se-akrab mereka di sms/y!m/bbm/facebook melainkan mereka cuma terdiam dan tersipu malu akan sebuah pandangan. Ken yang disana sedang sibuk menata panggung, dipanggil Yuna temannya untuk dipertunjukan sesuatu,
     "Ken! kemari, sebuah kejutan datang!!" teriak Yuna kegirangan.
     "Tunggu, bentar ini tanggung kalo ditinggal" jawab Ken dengan tegas,
     Dan setelah selesai menata panggung, Ken bergegas ke arah Yuna dan tiba-tiba,
     "Ken, kamu pasti cape ini aku bawakan Minum" suara lembut Lidya yang seakan malu dan tak kuasa menahan pipi yang mulai memerah.
     "Hah? eh eh...iya" (gagu& heran) Ken menjawab dengan terbata-bata.

     Dan saat itulah saat yang menjadi berarti selama penantian Ken yang tidak memiliki nyali untuk menyapa Lidya terlebih dahulu. Hari demi hari berlalu, kedekatan Ken & Lidya semakin akrab, mereka berdua seakan habis kata utuk mengatakan bahwa "Ya Kita Saling Mencinta" dan akhirnya mereka pun melanjutkan untuk hubungan yang lebih lanjut, yaitu berpacaran.

     Hubungan yang mereka lalui sungguh menyenangkan, mereka seakan tak terbagi oleh ruang & waktu. Kebersamaan mereka begitu erat, dan mungkin bisa dibilang dimana Ken berada pasti disana ada Lidya, begitupun sebaliknya. Di awal Juni ini, mungkin menjadi bulan yang sangat berarti bagi mereka, tapi semua tak semulus yang dibayangkan. Orang tua Lidya tidak menyetujui hubungan mereka, dikarenakan Lidya harus serius untuk masa awalnya bersekolah. Banyak tentangan dari keluarga yang membuat Lidya sedih, diceritakanlah semua itu kepada Ken. Tak ada daya apapun, Ken memutuskan hubungannya yang baru beberapa minggu dengan Lidya. Seakan mendapatkan ancaman keras dari Orang Tua Lidya, Ken pergi menghilang. Saat jam sekolah mereka tidak pernah bertemu. Hanya pandangan dari jauh yang mungkin bisa mereka lakukan sebagai kesepakatan untuk saling melupakan.

     Lidya yang berubah drastis menimbulkan pertanyaan besar untuk keluarga dan teman-temannya, dia sekarang sudah bukan Lidya yang dulu ceria dan sering tertawa, melainkan Lidya yang pendiam dan cenderung emosional.

     "Bukankah cinta itu butuh pengorbanan, dan bukankah cinta itu tak memandang siapa dia sebenarnya dan darimana dia berasal, berjuta kata tidak bisa aku luapkan untuk membohongi perasaanku sendiri, aku masih cinta."


    Begitulah tulisan terakhir Lidya sebulum dia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Orang Tua Lidya & Ken pun gelisah mencari keberadaan Lidya, tidak ada yang mengetahui dimana Lidya berada, dan Kondisi Lidya yang lemah semkin menambah kekhawatiran Orang-orang terdekat Lidya.

     Sebulan berlalu pencarian Lidya pun belum ditemukan, semua sudah melapor kepihak yang berwajib, tapi tidak satupun mengetahui dimana keberadaannya. Ken yang pada saat itu pulang dari sebuah Bar di pusat kota melihat seorang gadis yang sepertinya dia kenal sosok itu, ya! Lidya! Bukan Lidya yang kulihat! Wanita  gila yang sedang memungut bekas makanan di tempat pembuangan sampah, Ken terkejut dan berlari menghampiri lalu memeluk tubuh lemah tak berdaya tersebut.
     "Aku khawatir, semua orang khawatir, mengapa kamu lakukan ini?' Tanya Ken dengan derai air mata.
     "Aku? kenapa? jika kamu tau, kekhawatiranku saat itu melebihi kekhawatiran kalian" Jawab Lidya dengan pandangan kosong.
     "Kekhawatiran apa Lid?" jawab Ken dengan penuh heran.
     "Kekhawatiranku untuk mengecewakan orang tua dan kekhawatiran terbesarku yang tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk berhenti mencintaimu, karena aku ga sanggup Ken" Lidya berderai air mata.
Suasana hening dan menjadi sangat dramatis. Dan tiba-tiba Lidya terjatuh pingsan, Ken bergegas membawa Lidya ke RumahSakit. Dan tidak bertahan lama, Lidya pun tidak bisa diselamatkan. Pembuluh darah Lidya pecah karena kedinginan dan berhari-hari dalam keadaan basah kuyup. Ken terpukul dan Orang Tua widya tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kita semua kehilangan Lidya. Tidak banyak kenangan yang dihabiskan Ken bersama Lidya disaat terakhirnya. Penyesalan selalu membayang bayangi Ken sampai saat ini.

"Kamu tau apa yang paling indah di muka bumi ini? Kamu! Seakan gapernah luput dari hariku dan Kamu tau gak apa yang jadi semangat aku buat sekolah? Kamu! Haha memang gombal sih tapi gatau kenapa aku pengen banget mencurahkan semuanya di kertas ini, oh iya Ken kalo suatu hari nanti kamu baca tulisan ini, jangan kegeeran ya Ken soalnya aku nulis ini pake Tinta Cinta! ga sembarangan Tinta loh! Semoga pas kamu baca tulisan ini kamu bisa bales ya surat ini, sedikit juga gapapa kok. Awas kalo sampe ga dibales! haha I Love You Ken"


"I love you Too Lidya" ujar Ken sambil meneteskan air mata diatas surat yang ia temukan di laci belajar Lidya 1 bulan sebelum kepergiannya. Cinta itu tak terbayar oleh apapun, bahkan hingga nyawa hilangpun jika cinta itu sejati dia tidak akan pernah pudar. Dan percalah Cinta itu ada.

by Zulfikar Muhammad Al Rafkhi
June or Love